Keselamatan ibu dan bayi merupakan salah satu prioritas penting dalam pelayanan kesehatan. Masa kehamilan, persalinan, hingga periode setelah kelahiran membutuhkan pemantauan dan penanganan yang tepat, terutama ketika terjadi kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan respons medis segera.
Keterlambatan dalam mengenali tanda bahaya, mencapai fasilitas kesehatan, maupun memperoleh penanganan medis dapat meningkatkan risiko komplikasi yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan setiap pasien mendapatkan pertolongan sesuai kebutuhan klinisnya.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, RSUD Cengkareng terus memperkuat program SIGAP (Sinergi, Cepat, dan Tanggap) Ibu dan Bayi Baru Lahir. Program yang telah berjalan sejak tahun 2020 ini kembali diperkuat melalui kegiatan sosialisasi dan penguatan jejaring rujukan pada 5 Oktober 2026, dengan melibatkan 44 tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Jakarta Barat.
Mengenali Faktor Risiko: 3 Terlambat dan 4 Terlalu
Salah satu tantangan dalam menurunkan risiko kematian ibu dan bayi adalah fenomena 3 Terlambat dan 4 Terlalu.
3 Terlambat merupakan tiga faktor keterlambatan yang dapat memengaruhi keselamatan ibu, yaitu:
Terlambat mengambil keputusan: keterlambatan keluarga atau ibu dalam mengenali tanda bahaya dan memutuskan untuk mencari pertolongan medis.
Terlambat mencapai fasilitas kesehatan: keterlambatan perjalanan menuju fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu memberikan penanganan sesuai kondisi pasien.
Terlambat mendapatkan penanganan: keterlambatan memperoleh tindakan medis yang dibutuhkan setelah pasien tiba di fasilitas kesehatan.
Selain itu, terdapat faktor risiko 4 Terlalu yang perlu diperhatikan selama kehamilan:
Terlalu muda: hamil pada usia di bawah 20 tahun.
Terlalu tua: hamil pada usia di atas 35 tahun.
Terlalu dekat: jarak kehamilan kurang dari dua tahun.
Terlalu banyak: memiliki jumlah anak lebih dari tiga.
Pengenalan faktor risiko tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran ibu dan keluarga dalam merencanakan kehamilan, melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur, serta segera mencari pertolongan apabila ditemukan tanda bahaya.
Memperkuat Jejaring Rujukan Antar Fasilitas Kesehatan
Penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal membutuhkan koordinasi yang baik antara fasilitas pelayanan kesehatan. Kecepatan komunikasi, ketepatan pengambilan keputusan, dan kesiapan fasilitas penerima menjadi faktor penting dalam proses rujukan.
Melalui program SIGAP, RSUD Cengkareng memperkuat koordinasi dengan puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, dan rumah sakit jejaring di wilayah Jakarta Barat.
Penguatan ini dilakukan melalui sosialisasi dan koordinasi antar tenaga kesehatan agar proses rujukan dapat berlangsung lebih efektif, dengan komunikasi yang jelas mengenai kondisi pasien dan kebutuhan penanganannya.
Kegiatan penguatan jejaring pada 5 Oktober 2026 yang melibatkan 44 tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan pemahaman dan koordinasi antar fasilitas pelayanan kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir.
Kesiapan Dokter Spesialis dan Fasilitas Pelayanan 24 Jam
Kecepatan respons kegawatdaruratan harus didukung kesiapan tenaga medis yang kompeten serta fasilitas pelayanan yang memadai.
Sebagai rumah sakit dengan layanan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), RSUD Cengkareng didukung kesiapan dokter spesialis secara on-site selama 24 jam, meliputi:
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG).
Dokter Spesialis Anak (Sp.A).
Dokter Spesialis Anestesi (Sp.An).
Kesiapan tenaga medis tersebut didukung fasilitas pelayanan intensif, antara lain:
Neonatal Intensive Care Unit (NICU)
Fasilitas perawatan intensif bagi bayi baru lahir yang membutuhkan pemantauan dan penanganan medis khusus, termasuk bayi dengan kondisi kritis.
High Care Unit (HCU) Maternal
Fasilitas pemantauan dan perawatan intensif bagi ibu dengan kondisi medis yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.
Kesiapan dokter spesialis dan dukungan fasilitas tersebut merupakan bagian penting dalam mendukung penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal secara cepat dan sesuai kebutuhan klinis.
Mendukung Pelayanan Ibu dan Bayi yang Berkesinambungan
Pelayanan kesehatan ibu dan bayi tidak berhenti setelah proses persalinan. Masa nifas dan periode neonatal merupakan fase penting yang tetap membutuhkan pemantauan, edukasi, serta dukungan tenaga kesehatan.
Melalui penguatan SIGAP, RSUD Cengkareng mendorong koordinasi pelayanan mulai dari deteksi risiko kehamilan, proses rujukan, penanganan persalinan, hingga penanganan kegawatdaruratan pada ibu dan bayi baru lahir.
Kesinambungan pelayanan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak serta membantu mencegah komplikasi sejak dini.
Komitmen RSUD Cengkareng terhadap Keselamatan Ibu dan Bayi
Penguatan program SIGAP merupakan bagian dari komitmen RSUD Cengkareng dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal melalui sinergi antar fasilitas kesehatan, kesiapan tenaga medis, serta dukungan fasilitas pelayanan yang memadai.
Kolaborasi yang kuat dan respons yang cepat diharapkan dapat meminimalkan keterlambatan penanganan sehingga setiap ibu dan bayi memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.
SIGAP (Sinergi, Cepat, dan Tanggap) Ibu dan Bayi Baru Lahir.
Karena satu detik begitu berharga