Fenomena Skinny Fat yang Diam-Diam Banyak Dialami Gen Z & Milenial
Pernah merasa berat badan masih normal, bahkan cenderung kurus, tapi perut mulai buncit, badan gampang lelah, naik tangga sedikit ngos-ngosan, atau hasil medical check-up mulai “lampu kuning”?
Kalau iya, bisa jadi masalahnya bukan berat badan — tapi komposisi tubuh.
Saat ini semakin banyak anak muda mengalami kondisi yang dikenal sebagai skinny fat. Dari luar terlihat kurus atau ideal, tetapi ternyata lemak tubuh tinggi dan massa otot rendah. Dalam dunia medis, kondisi yang lebih serius dikenal sebagai sarcopenic obesity, (sarcopenia : massa otot yang rendah ) (Obesity : Lemak tubuh berlebih)
Fenomena ini semakin sering ditemukan pada Gen Z dan milenial. Bukan karena terlalu banyak makan saja, tetapi karena kombinasi gaya hidup modern: duduk terlalu lama, kurang gerak, tidur berantakan, stres tinggi, dan pola makan yang tidak seimbang.
Kenapa Banyak Terjadi pada Anak Muda?
Dulu sarcopenia lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Sekarang, usia 20–40 tahun pun mulai banyak mengalaminya.
Beberapa penyebab yang paling sering:
1. Duduk dan Rebahan Terlalu Lama
Tubuh dirancang untuk bergerak. Ketika aktivitas fisik minim, massa otot perlahan menurun.
2. Diet Asal Kurus
Banyak orang terlalu fokus menurunkan angka timbangan tanpa menjaga massa otot. Diet ekstrem justru sering membuat otot ikut hilang.
3. Kurang Protein
Makan sedikit belum tentu sehat. Banyak orang mengurangi makan tetapi asupan proteinnya sangat kurang.
4. Tidur Berantakan dan Stres Tinggi
Kurang tidur dan stres kronis meningkatkan hormon kortisol yang memicu penumpukan lemak di area perut.
5. Penurunan Berat Badan yang Terlalu Cepat
Tanda dan Gejala
Banyak orang merasa dirinya sehat karena berat badan masih normal. Padahal, skinny fat sering muncul tanpa gejala yang terlalu jelas dan baru diketahui setelah pemeriksaan komposisi tubuh.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Berat badan terlihat normal, tetapi lingkar perut mulai meningkat
Tubuh terasa kurang kencang dan mudah lelah
Cepat pegal meski aktivitas ringan
Sulit membentuk massa otot
Jarang berolahraga atau terlalu lama duduk setiap hari
Pola makan tinggi gula, minuman manis, dan makanan olahan
Energi tubuh terasa menurun meski usia masih muda
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, perlemakan hati (fatty liver), tekanan darah tinggi, hingga peradangan kronis dalam tubuh. Karena itu, tubuh yang terlihat kurus belum tentu memiliki metabolisme yang sehat.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Prioritaskan Protein
Protein adalah bahan baku utama otot. Sumbernya bisa dari telur, ikan, ayam, daging, susu, tahu, atau tempe.
Berolahraga
Tidak harus langsung berolahraga intensitas berat. Latihan sederhana seperti squat, resistance band, atau bodyweight training juga sangat membantu mempertahankan massa otot.
Kurangi Gaya Hidup Sedentary
Lebih sering bergerak dalam aktivitas harian sangat penting untuk menjaga metabolisme tubuh.
Tidur yang Cukup
Tidur berperan besar dalam keseimbangan hormon dan pemulihan otot.
Cek Komposisi Tubuh
Karena sehat bukan hanya soal berat badan turun — tetapi memiliki metabolisme yang baik, massa otot yang optimal, dan tubuh yang lebih kuat untuk jangka panjang.
Lakukan evaluasi komposisi tubuh dan konsultasi nutrisi bersama Dokter Spesialis Gizi Klinik di Kanaya Executive Health RSUD Cengkareng untuk membantu mengetahui kondisi metabolik, persentase lemak tubuh, massa otot, hingga risiko penyakit seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan fatty liver sejak dini.
Oleh: dr.Consistania Ribuan, Sp.GK, AIFO-K, FINEM
Dokter Spesialis Gizi Klinik
Kanaya Executive Clinic RSUD Cengkareng.
Keyword : Skinny Fat, Sarcopenic Obesity, Dokter Gizi Jakarta Barat, Body Composition Analysis, Konsultasi Gizi Klinik Cengkareng